Pernahkah kamu berkunjung ke panti asuhan?

Jika jawabannya belum, begitu juga saya. selama hampir 28 tahun, belum sekalipun saya berkunjung ke panti asuhan. Namun di lubuk hati, niat itu selalu ada.  

Beberapa waktu yang lalu, tanpa sengaja karena pencarian di google saya berkunjung ke blog seseorang. Didalamnya terdapat sebuah  artikel mengenai sharing pengalaman mengadopsi anak dari panti asuhan. Saya sangat tertarik untuk membacanya, karena ingin sekali mengetahui prosedur pengangkatan anak.

Penulis blog tersebut menjatuhkan pilihan adopsi di panti asuhan Tunas Bangsa. Sekedar informasi panti asuhan Tunas Bangsa adalah satu-satunya panti asuhan milik pemerintah yang didedikasikan khusus untuk memelihara anak-anak terlantar dengan umur di bawah lima tahun (balita) baik yang masih memiliki orang tua/ ditelantarkan oleh orang tua/ atau benar-benar sudah tidak memiliki orang tua. Menurut si penulis, proses pengangkatan anak di panti tersebut adalah adopsi tertutup dan legal karena melalui proses pengesahan di pengadilan.

Di blog lain saya mendapatkan informasi bahwa panti mengijinkan siapa saja untuk berkunjung. Baik yang ingin memberikan bantuan, atau sekedar bermain bersama anak-anak disana. Panti buka setiap hari, waktu kunjungan mulai jam 10 – 12  siang dan jam 4 – 5 sore.

Setelah cukup mendapat informasi yang diperlukan, saya menceritakan tulisan yang saya baca kepada suami tercinta. Ternyata dia sangat merespon keinginan saya untuk berkunjung kesana, dan kami memilih hari sabtu (bulan lalu) saat libur kerja.

Hari sabtu yang ditunggu-tunggu pun tiba, pagi hari sekitar jam 9 dengan mengendarai sepeda motor dan berbekal GPS di HP kami berangkat dari Bintara Bekasi menuju Cipayung, tepatnya di JL. Raya Bina Marga No. 79.

Perjalanan menuju lokasi cukup jauh, sekitar satu jam perjalanan. Untungnya sepanjang jalan menuju ke lokasi masih banyak ditumbuhi pohon-pohon rindang, udara masih terasa segar. Lokasi panti berada di tepi jalan, jadi mudah sekali untuk menemukannya :D.

Sesampainya disana, kami mengisi buku tamu (bagi yang membawa bantuan baik berupa uang atau barang biasanya di serahkan disini). Kemudian saya bertanya kepada petugas penerima tamu  tentang persyaratan pengangkatan anak. Eh, bukannya dijelaskan malah dikasi brosur, mungkin disuruh baca sendiri ya : D. Maklum saja pengunjung panti ini lumayan banyak, petugasnya lelah mengulang penjelasan yang sama kepada setiap pengunjung.

Memasuki aula panti yang terletak dilantai dua, saya di sambut pemandangan anak-anak umur 3-5 yang antusias mengikuti sebuah acara. Ternyata pada saat itu ada pengunjung yang merayakan ulang tahun anaknya. Menurut petugas jika sabtu atau minggu acara seperti ini sering diadakan, tapi untuk mengadakan acara seperti ini pengunjung harus membuat janji terlebih dahulu. Karena takut bentrok dengan pengunjung lain yang memiliki keinginan serupa. Tapi jangan membayangkan anak-anak itu duduk rapi ya…hehe. Sebagian memang duduk rapi sambil memakan bingkisan yang dibagikan, tapi sebagian lagi berlari-lari memutari aula. Sungguh pemandangan yang lucu, ditambah lagi melihat tingkah polah mereka, ada anak yang berteriak-teriak, ada yang tertawa, ada pula yang menangis. Mungkin pada dasarnya mereka hanya meminta perhatian saja. 

Lanjut lagi ya,

Jika beranjak dari aula, kita akan menemukan lorong menuju ruang perawatan anak usia 0-2 tahun. Seingat saya, ruang perawatan terbagi dua, ruangan pertama untuk anak usia 0-7 bulan dan ruang kedua untuk anak usia 8-24 bulan.

Pengunjung tidak diperkenankan masuk ruang perawatan, jadi hanya melihat dari jendela yang dapat dibuka. Menurut artikel  yang saya baca, dulu pengunjung bebas masuk dan bermain dengan bayi-bayi lucu disini. Namun karena intensitas kunjungan yang semakin tinggi, bayi-bayi ini jadi mudah/sering jatuh sakit mungkin tertular dari pengunjung. Oleh karena itu, saat ini diberlakukan larangan masuk ke ruang perawatan.

Ruang pertama yang kami kunjungi yaitu ruang anak usia 8-24 bulan, saat saya membuka jendela, tidak berapa lama dua orang anak datang mendekat menyapa saya dan suami. Anak perempuan yang menghampiri kami bernama Bilqis, wajahnya manis, berkulit hitam, dan berambut ikal. Yang membuat saya terenyuh bilqis beberapa kali memberi saya mainan dan memanggil saya “ma.. ma.. ma”. Kasian sekali bilqis, dia menganggap semua pengunjung wanita adalah ibunya. :’(. Sedangkan anak laki-laki yang menyapa saya namanya rizki, berumur satu tahun dua bulan, berkulit putih, bersih sekali.

Ngak berapa lama datang pasutri lain, mereka membuka jendela tepat disebelah kami. Meraka datang untuk bertemu dengan seorang anak berusia  8 bulan namanya Amelia. Setelah ngobrol beberapa saat ternyata mereka adalah pasutri yang telah menentukan pilihan, Amelia adalah anak yang mereka idam-idamkan untuk di adopsi. Ceritanya proses adopsi Amelia terkendala karena statusnya yang belum “AMAN”. Jadi Amelia ini masih memiliki keluarga yaitu neneknya, dan beliau hingga kunjungan kami saat itu belum memberi ijin Amelia untuk di adopsi. (Adopsi pun tidak semudah yang kita pikirkan, semua tetap kembali kepada ijin sang pencipta, saya dengan tulus hati ikut mendoakan semoga pasutri itu diberikan kemudahan dan kelancaran proses adopsi, amin…).

“The best form of worship is to wait (patiently) for a happy outcome”
~ Aaidh ibn Abdullah al-Qarni

Puas bermain, kami beralih ke ruangan lainnya, ruang perawatan anak 0-7 bulan.
Tepat didepan jendela di tempatkan beberapa box bayi. Saya bermain dengan dua bayi yang kebetulan baru bangun tidur, bayi perempuan yang menurut petugas panti berusia 5 bulan namanya novianti. Anaknya manis, berambut lurus, dan rajin sekali tersenyum. Beberapa kali tangannya menggapai-gapai tangan saya dan suami, sungguh menggemaskan. 


(Bayi perempuan inilah yang bernama novianti, sedangkan yang cuma kelihatan kepalanya saja namanya irfan)

Bayi kedua umurnya 4 bulan namanya irfan, petugas perawat berinisiatif menempatkan mereka dalam satu box di dekat jendela kami, sehingga memudahkan kami untuk bermain dengan mereka. Irfan bertubuh kecil dibandingkan novi, berkulit hitam, kepalanya gundul, hehe. Mungkin ada rambutnya, hanya saja sangat tipis :D.

Tidak terasa selama dua jam kami habiskan bermain bersama anak-anak panti. Jam kunjungan sudah habis. Hari ini saya dan suami mendapatkan pengalaman luar biasa, pengalaman pertama yang mungkin akan terus kami kenang.


Dalam hati saya berharap semoga kunjungan ini bisa menjadi awal untuk kunjungan-kunjungan selanjutnya…. ^_^

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top